Saturday, December 31, 2016

Hadits Sahih Nabi Muhammad Abu Daud

Imam Abu Dawud (817 / 202 H – meninggal di Basrah; 888 / 16 Syawal 275 H; umur 70–71 tahun) adalah salah seorang perawi hadits, yang mengumpulkan sekitar 50.000 hadits lalu memilih dan menuliskan 4.800 di antaranya dalam kitab Sunan Abu Dawud. Nama lengkapnya adalah Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Untuk mengumpulkan hadits, dia bepergian ke Arab Saudi, Irak, Khurasan, Mesir, Suriah, Nishapur, Marv, dan tempat-tempat lain, menjadikannya salah seorang ulama yang paling luas perjalanannya.
Bapak dia yaitu Al Asy'ats bin Ishaq adalah seorang perawi hadits yang meriwayatkan hadits dari Hamad bin Zaid, dan demikian juga saudaranya Muhammad bin Al Asy`ats termasuk seorang yang menekuni dan menuntut hadits dan ilmu-ilmunya juga merupakan teman perjalanan dia dalam menuntut hadits dari para ulama ahli hadits.
Abu Dawud sudah berkecimpung dalam bidang hadits sejak berusia belasan tahun. Hal ini diketahui mengingat pada tahun 221 H, dia sudah berada di Baghdad, dan di sana dia menemui kematian Imam Muslim, sebagaimana yang dia katakan: "Aku menyaksikan jenazahnya dan mensholatkannya". Walaupun sebelumnya dia telah pergi ke negeri-negeri tetangga Sijistan, seperti khurasan, Baghlan, Harron, Roi dan Naisabur.
Setelah dia masuk kota Baghdad, dia diminta oleh Amir Abu Ahmad Al Muwaffaq untuk tinggal dan menetap di Bashroh,dan dia menerimanya,akan tetapi hal itu tidak membuat dia berhenti dalam mencari hadits.
Imam Abu Daud menyusun kitabnya di Baghdad. Minat utamanya adalah syariat, jadi kumpulan hadits-nya berfokus murni pada hadits tentang syariat. Setiap hadits dalam kumpulannya diperiksa kesesuaiannya dengan Al-Qur'an, begitu pula sanadnya. Dia pernah memperlihatkan kitab tersebut kepada Imam Ahmad untuk meminta saran perbaikan.
Kitab Sunan Abu Dawud diakui oleh mayoritas dunia Muslim sebagai salah satu kitab hadits yang paling autentik. Namun, diketahui bahwa kitab ini mengandung beberapa hadits lemah (yang sebagian ditandai dia, sebagian tidak).
Banyak ulama yang meriwayatkan hadits dari dia, di antaranya Imam Turmudzi dan Imam Nasa'i. Al Khatoby mengomentari bahwa kitab tersebut adalah sebaik-baik tulisan dan isinya lebih banyak memuat fiqh daripada kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Ibnul A'raby berkata, barangsiapa yang sudah menguasai Al-Qur'an dan kitab "Sunan Abu Dawud", maka dia tidak membutuhkan kitab-kitab lain lagi. Imam Al-Ghazali juga mengatakan bahwa kitab "Sunan Abu Dawud" sudah cukup bagi seorang mujtahid untuk menjadi landasan hukum.
Ia adalah imam dari imam-imam Ahlussunnah wal Jamaah yang hidup di Bashroh kota berkembangnya kelompok Qadariyah, demikian juga berkembang disana pemikiran Khowarij, Mu'tazilah, Murji'ah dan Syi'ah Rafidhoh serta Jahmiyah dan lain-lainnya, tetapi walaupun demikian dia tetap dalam keistiqomahan diatas Sunnah dan diapun membantah Qadariyah dengan kitabnya Al Qadar, demikian pula bantahan dia atas Khowarij dalam kitabnya Akhbar Al Khawarij, dan juga membantah terhadap pemahaman yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam yang telah disampaikan olah Rasulullah. Maka tentang hal itu bisa dilihat pada kitabnya As Sunan yang terdapat padanya bantahan-bantahan dia terhadap Jahmiyah, Murji'ah dan Mu'tazilah.
Dia lahir sebagai seorang ahli urusan hadits, juga dalam masalah fiqh dan ushul serta masyhur akan kewara’annya dan kezuhudannya. Kefaqihan dia terlihat ketika mengkritik sejumlah hadits yang bertalian dengan hukum, selain itu terlihat dalam penjelasan bab-bab fiqih atas sejumlah karyanya, seperti Sunan Abu Dawud.
Al-Imam al-Muhaddist Abu Dawud lahir pada tahun 202 H dan wafat pada tahun 275 H di Bashrah.
Sepanjang sejarah telah muncul para pakar hadist yang berusaha menggali makna hadist dalam berbagai sudut pandang dengan metode pendekatan dan sistem yang berbeda, sehingga dengan upaya yang sangat berharga itu mereka telah membuka jalan bagi generasi selanjutnya guna memahami as-Sunnah dengan baik dan benar.
Di samping itu, mereka pun telah bersusah payah menghimpun hadits-hadits yang dipersilisihkan dan menyelaraskan di antara hadits yang tampak saling menyelisihi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kewibawaan dari hadits dan sunnah secara umum. Abu Muhammad bin Qutaibah (wafat 267 H) dengan kitab dia Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits telah membatah habis pandangan kaum Mu’tazilah yang mempertentangkan beberapa hadits dengan al-Quran maupun dengan rasio mereka.
Selanjutnya upaya untuk memilahkan hadits dari khabar-khabar lainnya yang merupakan hadits palsu maupun yang lemah terus dilanjutkan sampai dengan kurun al-Imam Bukhari dan beberapa penyusun sunan dan lainnya. Salah satu kitab yang terkenal adalah yang disusun oleh Imam Abu Dawud yaitu sunan Abu Dawud. Kitab ini memuat 4800 hadits terseleksi dari 50.000 hadits.
Dia sudah berkecimpung dalam bidang hadits sejak berusia belasan tahun. Hal ini diketahui mengingat pada tahun 221 H, dia sudah berada di baghdad. Kemudian mengunjungi berbagai negeri untuk memetik langsung ilmu dari sumbernya. Dia langsung berguru selama bertahun-tahun. Di antaraguru-gurunya adalah Imam Ahmad bin Hambal, al-Qa’nabi, Abu Amr adh-Dhariri, Abu Walid ath-Thayalisi, Sulaiman bin Harb, Abu Zakariya Yahya bin Ma’in, Abu Khaitsamah, Zuhair bin Harb, ad-Darimi, Abu Ustman Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain.
Sebagai ahli hukum, Abu Dawud pernah berkata: Cukuplah manusia dengan empat hadist, yaitu: Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya; termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat; tidaklah keadaan seorang mukmin itu menjadi mukmin, hingga ia ridho terhadap saudaranya apa yang ia ridho terhadap dirinya sendiri; yang halal sudah jelas dan yang harampun sudah jelas pula, sedangkan di antara keduanya adalah syubhat.
Dia menciptakan karya-karya yang bermutu, baik dalam bidang fiqh, ushul,tauhid dan terutama hadits. Kitab sunan dialah yang paling banyak menarik perhatian, dan merupakan salah satu di antara kompilasi hadits hukum yang paling menonjol saat ini. Tentang kualitasnya ini Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah berkata: Kitab sunannya Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats as-sijistani rahimahullah adalah kitab Islam yang topiknya tersebut Allah telah mengkhususkan dia dengan sunannya, di dalam banyak pembahasan yang bisa menjadi hukum di antara ahli Islam, maka kepadanya hendaklah para mushannif mengambil hukum, kepadanya hendaklah para muhaqqiq merasa ridho, karena sesungguhnya ia telah mengumpulkan sejumlah hadits ahkam, dan menyusunnya dengan sebagus-bagus susunan, serta mengaturnya dengan sebaik-baik aturan bersama dengan kerapnya kehati-hatian sikapnya dengan membuang sejumlah hadits dari para perawi majruhin dan dhu’afa. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas mereka dan mem- berikannya pula atas para pelanjutnya.
Dalam Sebuah Kesempatan Kami Mengembnagkan aplikasi Android tentang Hadits Sahih Nabi Muhammad Abu Daud yang bisa dengan mudah dan gratis di Download Disini

Thursday, December 29, 2016

Cara Cepat Belajar Membaca (Ngaji) Iqro


Mengajari anak- anak tidaklah mudah. Kita harus mengetahui karakter dari anak yang kita ajar. Biasanya anak - anak banyak yang memiliki rasa takut terhadap orang yang lebih dewasa. Hal itu dapat menjadi salah satu pemicu mengapa anak - anak sulit dalam belajar, terutama dalam belajar hal- hal baru yang belum pernah mereka kenal. Namun di sisi lain, memiliki anak yang fasih dan pandai membaca Al- Qur'an, bagi umat muslim adalah suatu kebanggaan. 

Banyak sekali orang tua yang mengiginkan anaknya lancar membaca Al-Qur'an. Namun sebelum anak mahir membaca Al-Qur'an, kita harus mengajarkan dan memperkenalkan huruf huruf hijaiyah. Untuk mengajarkan huruf hijaiyah, kita dapat menggunakan buku Iqro dari jilid 1 sampai 6. Tapi dalam kenyataannya kita seringkali mengalami kesulitan dalam mengajarkan Iqro pada anak kita. 

Berikut ini 5 cara cepat belajar membaca (ngaji) iqro

1. Buat Suasana Yang Menyenangkan

Pada dasarnya anak - anak masih sangat senang bermain. Anak biasanya tidak senang jika dalam kondisi atau suasana yang tidak nyaman. Maka saat mengajak anak belajar membaca Iqro usahakan kita membuat suasana yang menyenangkan. Jika anak telah terlihat bosan belajar, ijinkanlah anak untuk beristirahat dan bermain sebentar. Karena hal itu dapat membuat anak kembali fres. 

Suasana yang senang menyenangkan akan membuat anak lebih mengingat apa yang ia pelajari dalam waktu yang lama. Begitu pula dengan anak yang mencintai atau menyenangi belajar huruf hijaiyah, maka dia akan lebih lama mengingat huruf- hurufnya. 

2. Pilih Waktu Yang Tepat Untuk Mengajari Anak

Pemilihan waktu yang tepat sangatlah berpengaruh pada tingkat keberhasilan dalam mengajarkan Iqro. Jangan mengajak anak belajar Iqro di saat mereka sedang dalam kondisi lelah, mengantuk, sedang asyik bermain dan dalam keadaan sakit. Jika kita salah memilih waktu maka akibatnya anak tidak akan fokus dan cenderung menjadi rewel. 

Kita juga dapat mengajak anak berdiskusi, apakah mereka mau belajar atau tidak. Karena biasanya anak dalam usia 4- 11 tahun sudah dapat kita ajak diskusi. Jika anak sadar dan igin belajar, pasti mereka akan belajar dengan senang hati. 

3. Kenali Kemampuan Anak

Kemampuan berfikir tiap anak tidaklah sama. Ada beberapa anak yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Hal tersebut berakibat, tiap kali anak diajari hal baru akan lebih cepat faham dan mengerti. Namun ada juga anak yang memiliki kemampuan kurang. Hal itu berakibat anak sulit dalam belajar dan memerlukan waktu yang lebih lama dalam memahami hal yang baru. 

Jika anak kita memiliki kemampuan yang agak kurang, janganlah memaksanya dan jangan sampai kita memojokkan anak. Jika kita paksakan akibatnya anak akan marah dan tidak mau belajar lagi. Kita sebagai orang dewasa harus lebih sabar dalam mengajari anak. 

4. Ajari Anak Secara Berulang dan Kontinyu

Ajak anak belajar secara kontinyu dan sering diulang. Hal tersebut akan membuat anak lebih mengingat apa yang dia pelajari. Buat jadwal tetap untuk mengajarkan Iqra, misalkan setiap pagi, siang dan sore. Penjadwalan ini perlu kita lakukan agar anak terbiasa untuk disiplin dalam belajar. 

Jika anak belum faham betul janganlah melanjutkan ke tingkat yang lebih sulit. Ulangilah materi yang sama, sampai anak benar- benar faham betul. Jika hal itu kita lakukan maka saat anak sampai pada hal yang sangat sulit akan membuat mereka menjadi malas belajar. 

5. Sabar dan Perbanyak Istigfar

Sabar adalah kata yang mudah kita ucapkan namun sulit untuk kita lakukan. Apalagi jika yang kita ajari adalah anak kita sendiri dan saat anak sulit diajari pasti kita akan mudah sekali marah. Apalagi bagi kita yang telah merasa capek karena pekerjaan, kita akan lebih cepat marah. Jika hal itu terjadi, perbanyaklah membaca istigfar dan tarik nafas panjang. 

Jangan sampai kita membentak anak jika dia sulit dalam belajar. Berilah motivasi dan dorongan, agar anak tidak merasa tertekan.

Mudah - mudahan lima tips cara cepat mengajarkan Iqro di atas dapat membantu anda dalam mengajarkan Iqro pada anak. Dan semoga amalan tersebut menjadi amalan yang tidak akan terputus rizkinya bagi kita sebagai orang tua. Amiiin....


Iqro Digital

sebuah terobosan baru dari kami yaitu Iqro Digital yang memudahkan kita semua dalam memulai belajar membaca Alquran Aplikasi ini bisa di download gratis tanpa memerlukan biaya. pada Link ini